KONSEP PRILAKU INDIVIDU
OLEH
KELOMPOK 2
M. Adlan Ahmad (18010401050006)
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang. Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur/guruh, dan badai salju.
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin.
Pertumbuhan dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga kelestariannya. Sekarang, coba kamu bayangkan jika tidak terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada manusia? Mungkin populasi manusia akan punah. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Jika hewan dan tumbuhan tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan, maka akan mengalami kepunahan.
Rumusan Masalah
Dalam makalah tentang badai ini ditemukan masalah - masalah pokok yang perlu dipecahkan, diantaranya :
1. Apa itu konsep perkembangan individu.?
2. Bagimana prinsip perkembangan individu.?
3. Apa saja tahap perkembangan individu.?
4. Bagaimana arah dan tugas perkembangan individu.?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan
Pengertian Perkembangan Secara Etimologis
Perkembangan berasal dari kata kembang yang berarti maju, menjadi lebih baik.
Pengertian Perkembangan Secara Termitologis
Perkembangan adalah proses kualitatif yang mengacu pada penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung sepanjang hidup manusia.
Menurut Para Ahli Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen. 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifaf timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif (E.B. Harlock). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya (Kasiram, 1983 : 23), mengandung arti bahwa perkembangan merupakan perubahan sifat individu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Spikier (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan yaitu:
a. Ontogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
b. Filogenetik, perkembang dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.
Crow: Perkembangan adalah perubahan secara kualitatif serta cenderung kearah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral, dan sosial.
Karl E. Garrison: Perkembangan adalah hasil dari pada tindakan yang saling berkaitan antara perkembangan jasmani dan pembelajaran.
Atan Long: Perkembangan adalah adanya timbul sifat baru yang berlainan dari sifat awal dan terus berlaku hingga akhir hayat.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan yaitu merupakan perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi dari proses terbentuknya individu sampai akhir hayat dan berlangsung secara terus menerus.
Sebagai contoh anak yang baru berusia 5 bulan hanya dapat tengkurap kemudian setelah kirakira 7 bulan sudah bisa berdiri tapi dengan bantuan orang lain, kemudian pada umur 9 bulan baru dapat berdiri sendiri dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Setelah berumur 10 bulan baru dapat berjalan dengan lancar, setelah itu dia dapat berlari-lari. Maka proses perubahan tersebut dinamakan dengan perkembangan.
B. Prinsip-prinsip Perkembangan
Hurlock (1997: 29) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip perkembangan tersebut meliputi:
1. Perkembangan Melibatkan Adanya Perubahan Perkembangan selalu ditandai adanya perubahan yang bersifat progresif yang bertujuan agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis dari Perkembangan Selanjutnya Perkembangan merupakan proses continue, dimana perkembangan sebelumnya akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu kesalahan ataupun gangguan pada perkembangan awal akan terus mempengaruhi perkembangan-perkembangan berikutnya.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar Kematangan merupakan hasil perkembangan melalui tahapan-tahapan yang kompleks dan saling terkait dari tahapan-tahapan awal ke tahapan-tahapan selanjutnya. Perkembangan merupakan hasil belajar mengartikan bahwa perkembangan diperoleh melalui usaha sadar dan latihan.
C. Tahap-Tahap Perkembnagan
a. SIGMEUN FREUD ( PERKEMBANGAN PSYCHOSEXUAL )
1. Fase Oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenangkan di dalam mulutnya, anak mendapat kepuasaan saat mendapat ASI, kepuasan bertambah dengan aktifitas mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
2. Fase Anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatannya pada anus saat BAB, waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.
3. Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)
Tertarik pada perbedaan antomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi persoalan. Kedekatan anak laki–laki pada ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang disebut oedipus compleks.
4. Fase Latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas)
Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motorik dan kognitifnya. Disebut juga fase homosexual alamiah karena anak–anak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figur (role model) sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.
5. Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah mulai matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan berbeda jenis kelamin.
b. PIAGET (PERKEMBANGAN KOGNITIF)
Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berfikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit, bagaimana menimbulkan prestasi dengan kemampuan yang dimiliki anak.
1. Tahap sensori – motor ( 0 – 2 tahun)
Perilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berpikir). Sekitar usia 18 – 24 bulan anak mulai bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir.
2. Tahap pra operasional ( 2 – 7 tahun)
a. Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu: transduktif; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri–ciri objek tertentu (truk dan mobil sama karena punya roda empat). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah–ubah kriteria klasifikasinya. Misal mula– mula ia mengelompokkan truk, sedan dan bus sendiri–sendiri, tapi kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar–kecilnya, dst.
b. Tahap intuitif( 4 – 7 tahun)
Pola pikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu dari objek dan semata–mata didasarkan atas penampakan objek.
3. Tahap operasional konkrit ( 7 – 12 tahun)
Konversi menunjukkan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap. Seriasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti: tinggi, besar, kecil, warna, bentuk, dst.
4. Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek–objek yang ia pikirkan. Pola pikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
c. ERIKSON ( PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL )
Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya. Perkembangan Psikososial :
1. Trust vs. Misstrust ( 0 – 1 tahun)
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik basic trust dan misstrust, bila anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu sangat berperan penting.
2. Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)
Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi peningkatan keterampilan motorik, anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap dirinya, sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berfikir ragu–ragu. Kedua orang tua objek sosial terdekat dengan anak.
3. Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan mandiri, anak akan mengembangkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya yang dikembangkan adalah sikap raguragu, maka ia akan selalu merasa bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
4. Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)
Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah, tuntutan peran dirinya dan bagi orang lain semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan ekstern lebih banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak akan rendah diri.
5. Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)
Anak mulai dihadapkan pada harapan– harapan kelompoknya dan dorongan yang semakin kuat untuk mengenal dirinya sendiri. Ia mulai berpikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta perannya, jika ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi perannya.
6. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal )
Individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Kesiapan membina hubungan dengan orang lain, perasaan kasih sayang dan keintiman, sedang yang tidak mampu melakukannya akan mempunyai perasaan terkucil atau tersaing.
7. Generativy vs self absorbtion ( dewasa tengah )
Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat dan manusia pada umumnya. Pengalaman di masa lalu menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan, khususnya generasi mendatang tetapi bila tahaptahap silam, ia memperoleh banyak pengalaman negatif maka mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.
8. Ego integrity vs Despair (dewasa lanjut)
Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul kekecewaan yang mendalam.
d. KOHLBERG (PERKEMBANGAN MORAL)
1. Pra-konvensional Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap perilaku anak. Penilaian terhadap perilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh perilaku. Dalam tahap selanjutnya anak mulai menyesuaikan diri dengan harapan–harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah, yaitu senyum, pujian atau benda.
2. Konvensional Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau ketertiban sosial agar disebut anak baik atau anak manis.
3. Purna Konvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan penting. Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa hormatnya terhadap orang lain.
e. HURLOCK (PERKEMBANGAN EMOSI)
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran, malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterimanya.
Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua dan lingkungan.
D. Tugas perkembangan
Havighurst (1961) mengemukakan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa bayi dan kanak-kanak awal (0,0–6.0) ? Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa bayi dan kanak – kanak awal (0,0–6.0) adalah : 1. Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan. 2. Belajar memakan makan padat. 3. Belajar berbicara. 4. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 6. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 7. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 8. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. 9. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa kanak-kanak akhir dan anak sekolah (6,0-12.0)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa kanak – kanak akhir dan anak sekolah (0,0– 6.0) adalah :
Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7. Mengembangkan kata hati.
8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa remaja (12,0-21.0)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja (21,0–21.0) adalah :
Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
6. Memilih dan mempersiapkan karier.
7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
9. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
10. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada Masa Dewasa Awal (21 – dst)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa dewasa awal (21,0–dst) adalah :
Memilih pasangan.
2. Belajar hidup dengan pasangan.
3. Memulai hidup dengan pasangan.
4. Memelihara anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai bekerja.
7. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
8. Menemukan suatu kelompok yang serasi.
E. Arah perkembangan
Arah atau pola perkembangan individu adalah sebagai berikut:
Cephalocaudal & proximal-distal
Perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
Perkembangan struktur mendahului fungsi. Dalam diri individu, struktur tertentu misalnya tulang dan otot kaki akan berkembang lebih dulu dibanding perkembangan fungsinya untuk berjalan. Apabila struktur tulang dan otot kaki tersebut sudah berkembang sebagaimana mestinya, baru fungsi kaki untuk berjalan akan berkembang. Demikian halnya perkembangan struktur dan fungsi yang lainnya dalam diri individu.
Perkembangan mulai dari hal yang bersifat umum menuju ke hal yang bersifat khusus. Contoh: Pengenalan anak terhadap berbagai objek, bergerak dari pengenalan secara umum (kabur, tidak detail) ke arah pengenalan yang semakin khusus mengenai detail bagian-bagian dari objek tersebut.
Perkembangan mental mulai dari kongkrit ke abstrak; mulai dari kecakapan berpikir apa adanya pada saat ini hingga kecakapan berpikir konseptual yang berorientasi ke masa yang akan datang.
Perkembangan bergerak dari egosentrisme kepada persfektivisme hingga dapat mengerti pendirian/pandangan orang lain. Dalam usia yang sangat muda, anak akan memandang dirinya sebagai pusat segalanya. Tetapi lambat laun kondisi egosentris ini akan berkembang kearah pemahaman terhadap orang lain dan lingkungan. Lambat laun anak akan memahami kondisi objektif akan adanya orang lain dan lingkungannya, sehingga ia akan mengerti akan adanya perbedaan pendirian atau pandangan dirinya dan pendirian atau pandangan orang lain.
Perkembangan bergerak dari dominasi kontrol dari luar diri kepada kontrol dari dalam diri. Pada awalnya anak belum dapat mengendalikan diri, ia masih memerlukan dominasi kontrol dari orang lain. Misalnya berkenaan dengan aturan atau disiplin. Namun demikian, lambat laun dan pada akhirnya anak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Perkembangan bergerak dari absolutisme kepada relativisme. Pada awalnya anak akan melihat sesuatu sebagai sesuatu yang mutlak, tidak boleh berubah. Contoh: pada awalnya anak akan berpendapat bahwa segala aturan tidak boleh diubah. Tetapi sejalan dengan perkembangannya, ia akan melihat akan adanya kemungkinan-kemungkinan atau kekecualian di mana dalam konteks tertentu aturan tertentu dapat saja diubah.
Perkembangan bergerak spiral menuju ke arah tujuan. Menurut prinsip ini berarti bahwa penguasaan tugas-tugas perkembangan akan terjadi pada berbagai tahap perkembangan dalam derajat kompleksitas yang berbeda. Semakin tinggi tahap perkembangannya, maka penguasaan tugas-tugas perkembangnnya akan semakin kompleks. Contoh: Pengenalan anak kelas satu madrasah ibtidaiyah mengenai Tuhan akan berbeda dengan pengenalan anak kelas satu Madrasah Tsanawiyah mengenai Tuhan. Selanjutnya perlu dipahami pula, bahwa perkembangan setiap individu bergerak maju menuju perkembangan yang lebih tinggi hingga mencapai kedewasaan.
BAB III
KESIMPULAN
Pertumbuhan lebih banyak berkenaan dengan aspek-aspek jasmaniah atau fisik. Pertumbuhan menunjukkan pertumbuhan atau penambahan secara kuantitas, yaitu
penambahan dalam ukuran besar atau tinggi.
Perkembangan berhubungan dengan aspekaspek pasikis atau rohaniah. Perkembangan berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa pertumbuhan berkenaan dengan penyempurnaan struktur sedangkan perkembangan dengan penyempurnaan fungsi.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
JURNAL
Syamsussabri, Muhammad. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Volume I : Halaman 3, 4, 5, 6, 7.
ARTIKEL
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/konsep-dasar-perkembangan-individu/
http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/prinsip-prinsip-dan-arah-perkembangan.html
http://blog.uny.ac.id/humasfipuny/files/2010/01/artikel-3.pdf
OLEH
KELOMPOK 2
M. Adlan Ahmad (18010401050006)
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa Tiga hal yang paling berbahaya dari badai adalah sambaran petir, banjir bandang, dan angin kencang. Terdapat berbagai macam badai, seperti badai hujan, badai guntur/guruh, dan badai salju.
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin.
Pertumbuhan dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga kelestariannya. Sekarang, coba kamu bayangkan jika tidak terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada manusia? Mungkin populasi manusia akan punah. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Jika hewan dan tumbuhan tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan, maka akan mengalami kepunahan.
Rumusan Masalah
Dalam makalah tentang badai ini ditemukan masalah - masalah pokok yang perlu dipecahkan, diantaranya :
1. Apa itu konsep perkembangan individu.?
2. Bagimana prinsip perkembangan individu.?
3. Apa saja tahap perkembangan individu.?
4. Bagaimana arah dan tugas perkembangan individu.?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan
Pengertian Perkembangan Secara Etimologis
Perkembangan berasal dari kata kembang yang berarti maju, menjadi lebih baik.
Pengertian Perkembangan Secara Termitologis
Perkembangan adalah proses kualitatif yang mengacu pada penyempurnaan fungsi sosial dan psikologis dalam diri seseorang dan berlangsung sepanjang hidup manusia.
Menurut Para Ahli Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen. 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifaf timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman, terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif (E.B. Harlock). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya (Kasiram, 1983 : 23), mengandung arti bahwa perkembangan merupakan perubahan sifat individu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Spikier (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan yaitu:
a. Ontogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
b. Filogenetik, perkembang dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.
Crow: Perkembangan adalah perubahan secara kualitatif serta cenderung kearah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral, dan sosial.
Karl E. Garrison: Perkembangan adalah hasil dari pada tindakan yang saling berkaitan antara perkembangan jasmani dan pembelajaran.
Atan Long: Perkembangan adalah adanya timbul sifat baru yang berlainan dari sifat awal dan terus berlaku hingga akhir hayat.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan yaitu merupakan perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi dari proses terbentuknya individu sampai akhir hayat dan berlangsung secara terus menerus.
Sebagai contoh anak yang baru berusia 5 bulan hanya dapat tengkurap kemudian setelah kirakira 7 bulan sudah bisa berdiri tapi dengan bantuan orang lain, kemudian pada umur 9 bulan baru dapat berdiri sendiri dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Setelah berumur 10 bulan baru dapat berjalan dengan lancar, setelah itu dia dapat berlari-lari. Maka proses perubahan tersebut dinamakan dengan perkembangan.
B. Prinsip-prinsip Perkembangan
Hurlock (1997: 29) menjelaskan bahwa prinsip-prinsip perkembangan tersebut meliputi:
1. Perkembangan Melibatkan Adanya Perubahan Perkembangan selalu ditandai adanya perubahan yang bersifat progresif yang bertujuan agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis dari Perkembangan Selanjutnya Perkembangan merupakan proses continue, dimana perkembangan sebelumnya akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu kesalahan ataupun gangguan pada perkembangan awal akan terus mempengaruhi perkembangan-perkembangan berikutnya.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar Kematangan merupakan hasil perkembangan melalui tahapan-tahapan yang kompleks dan saling terkait dari tahapan-tahapan awal ke tahapan-tahapan selanjutnya. Perkembangan merupakan hasil belajar mengartikan bahwa perkembangan diperoleh melalui usaha sadar dan latihan.
C. Tahap-Tahap Perkembnagan
a. SIGMEUN FREUD ( PERKEMBANGAN PSYCHOSEXUAL )
1. Fase Oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenangkan di dalam mulutnya, anak mendapat kepuasaan saat mendapat ASI, kepuasan bertambah dengan aktifitas mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
2. Fase Anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatannya pada anus saat BAB, waktu yang tepat untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.
3. Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)
Tertarik pada perbedaan antomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi persoalan. Kedekatan anak laki–laki pada ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang disebut oedipus compleks.
4. Fase Latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas)
Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motorik dan kognitifnya. Disebut juga fase homosexual alamiah karena anak–anak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari figur (role model) sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.
5. Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah mulai matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan berbeda jenis kelamin.
b. PIAGET (PERKEMBANGAN KOGNITIF)
Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan berpersepsi dan kemampuan mengakses informasi, berfikir logika, memecahkan masalah kompleks menjadi simple dan memahami ide yang abstrak menjadi konkrit, bagaimana menimbulkan prestasi dengan kemampuan yang dimiliki anak.
1. Tahap sensori – motor ( 0 – 2 tahun)
Perilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berpikir). Sekitar usia 18 – 24 bulan anak mulai bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir.
2. Tahap pra operasional ( 2 – 7 tahun)
a. Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola pikir egosentris. Pola berfikir ada dua yaitu: transduktif; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri–ciri objek tertentu (truk dan mobil sama karena punya roda empat). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah–ubah kriteria klasifikasinya. Misal mula– mula ia mengelompokkan truk, sedan dan bus sendiri–sendiri, tapi kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar–kecilnya, dst.
b. Tahap intuitif( 4 – 7 tahun)
Pola pikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu dari objek dan semata–mata didasarkan atas penampakan objek.
3. Tahap operasional konkrit ( 7 – 12 tahun)
Konversi menunjukkan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap. Seriasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti: tinggi, besar, kecil, warna, bentuk, dst.
4. Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek–objek yang ia pikirkan. Pola pikir menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
c. ERIKSON ( PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL )
Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu pada penyelesaian konflik yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya. Perkembangan Psikososial :
1. Trust vs. Misstrust ( 0 – 1 tahun)
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik basic trust dan misstrust, bila anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap lingkungannya, ibu sangat berperan penting.
2. Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)
Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi peningkatan keterampilan motorik, anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap dirinya, sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berfikir ragu–ragu. Kedua orang tua objek sosial terdekat dengan anak.
3. Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan mandiri, anak akan mengembangkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melakukan sesuatu atas kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya yang dikembangkan adalah sikap raguragu, maka ia akan selalu merasa bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
4. Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)
Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah, tuntutan peran dirinya dan bagi orang lain semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan ekstern lebih banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak akan rendah diri.
5. Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)
Anak mulai dihadapkan pada harapan– harapan kelompoknya dan dorongan yang semakin kuat untuk mengenal dirinya sendiri. Ia mulai berpikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas dirinya serta perannya, jika ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi perannya.
6. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal )
Individu sudah mulai mencari pasangan hidup. Kesiapan membina hubungan dengan orang lain, perasaan kasih sayang dan keintiman, sedang yang tidak mampu melakukannya akan mempunyai perasaan terkucil atau tersaing.
7. Generativy vs self absorbtion ( dewasa tengah )
Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat dan manusia pada umumnya. Pengalaman di masa lalu menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk kemanusiaan, khususnya generasi mendatang tetapi bila tahaptahap silam, ia memperoleh banyak pengalaman negatif maka mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.
8. Ego integrity vs Despair (dewasa lanjut)
Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan timbul kekecewaan yang mendalam.
d. KOHLBERG (PERKEMBANGAN MORAL)
1. Pra-konvensional Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap perilaku anak. Penilaian terhadap perilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh perilaku. Dalam tahap selanjutnya anak mulai menyesuaikan diri dengan harapan–harapan lingkungan untuk memperoleh hadiah, yaitu senyum, pujian atau benda.
2. Konvensional Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau ketertiban sosial agar disebut anak baik atau anak manis.
3. Purna Konvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan penting. Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya serta rasa hormatnya terhadap orang lain.
e. HURLOCK (PERKEMBANGAN EMOSI)
Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi bicara ia sudah mengembangkan emosi heran, malu, gembira, marah dan takut. Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu dapat mengerti rangsangan yang diterimanya.
Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi oleh harapan orang tua dan lingkungan.
D. Tugas perkembangan
Havighurst (1961) mengemukakan bahwa : “ A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa bayi dan kanak-kanak awal (0,0–6.0) ? Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa bayi dan kanak – kanak awal (0,0–6.0) adalah : 1. Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan. 2. Belajar memakan makan padat. 3. Belajar berbicara. 4. Belajar buang air kecil dan buang air besar. 5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 6. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. 7. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. 8. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. 9. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa kanak-kanak akhir dan anak sekolah (6,0-12.0)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa kanak – kanak akhir dan anak sekolah (0,0– 6.0) adalah :
Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7. Mengembangkan kata hati.
8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada masa remaja (12,0-21.0)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja (21,0–21.0) adalah :
Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
2. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.
3. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.
6. Memilih dan mempersiapkan karier.
7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
9. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
10. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
Tugas perkembangan apa yang harus dicapai pada Masa Dewasa Awal (21 – dst)
Tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa dewasa awal (21,0–dst) adalah :
Memilih pasangan.
2. Belajar hidup dengan pasangan.
3. Memulai hidup dengan pasangan.
4. Memelihara anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai bekerja.
7. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
8. Menemukan suatu kelompok yang serasi.
E. Arah perkembangan
Arah atau pola perkembangan individu adalah sebagai berikut:
Cephalocaudal & proximal-distal
Perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
Perkembangan struktur mendahului fungsi. Dalam diri individu, struktur tertentu misalnya tulang dan otot kaki akan berkembang lebih dulu dibanding perkembangan fungsinya untuk berjalan. Apabila struktur tulang dan otot kaki tersebut sudah berkembang sebagaimana mestinya, baru fungsi kaki untuk berjalan akan berkembang. Demikian halnya perkembangan struktur dan fungsi yang lainnya dalam diri individu.
Perkembangan mulai dari hal yang bersifat umum menuju ke hal yang bersifat khusus. Contoh: Pengenalan anak terhadap berbagai objek, bergerak dari pengenalan secara umum (kabur, tidak detail) ke arah pengenalan yang semakin khusus mengenai detail bagian-bagian dari objek tersebut.
Perkembangan mental mulai dari kongkrit ke abstrak; mulai dari kecakapan berpikir apa adanya pada saat ini hingga kecakapan berpikir konseptual yang berorientasi ke masa yang akan datang.
Perkembangan bergerak dari egosentrisme kepada persfektivisme hingga dapat mengerti pendirian/pandangan orang lain. Dalam usia yang sangat muda, anak akan memandang dirinya sebagai pusat segalanya. Tetapi lambat laun kondisi egosentris ini akan berkembang kearah pemahaman terhadap orang lain dan lingkungan. Lambat laun anak akan memahami kondisi objektif akan adanya orang lain dan lingkungannya, sehingga ia akan mengerti akan adanya perbedaan pendirian atau pandangan dirinya dan pendirian atau pandangan orang lain.
Perkembangan bergerak dari dominasi kontrol dari luar diri kepada kontrol dari dalam diri. Pada awalnya anak belum dapat mengendalikan diri, ia masih memerlukan dominasi kontrol dari orang lain. Misalnya berkenaan dengan aturan atau disiplin. Namun demikian, lambat laun dan pada akhirnya anak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Perkembangan bergerak dari absolutisme kepada relativisme. Pada awalnya anak akan melihat sesuatu sebagai sesuatu yang mutlak, tidak boleh berubah. Contoh: pada awalnya anak akan berpendapat bahwa segala aturan tidak boleh diubah. Tetapi sejalan dengan perkembangannya, ia akan melihat akan adanya kemungkinan-kemungkinan atau kekecualian di mana dalam konteks tertentu aturan tertentu dapat saja diubah.
Perkembangan bergerak spiral menuju ke arah tujuan. Menurut prinsip ini berarti bahwa penguasaan tugas-tugas perkembangan akan terjadi pada berbagai tahap perkembangan dalam derajat kompleksitas yang berbeda. Semakin tinggi tahap perkembangannya, maka penguasaan tugas-tugas perkembangnnya akan semakin kompleks. Contoh: Pengenalan anak kelas satu madrasah ibtidaiyah mengenai Tuhan akan berbeda dengan pengenalan anak kelas satu Madrasah Tsanawiyah mengenai Tuhan. Selanjutnya perlu dipahami pula, bahwa perkembangan setiap individu bergerak maju menuju perkembangan yang lebih tinggi hingga mencapai kedewasaan.
BAB III
KESIMPULAN
Pertumbuhan lebih banyak berkenaan dengan aspek-aspek jasmaniah atau fisik. Pertumbuhan menunjukkan pertumbuhan atau penambahan secara kuantitas, yaitu
penambahan dalam ukuran besar atau tinggi.
Perkembangan berhubungan dengan aspekaspek pasikis atau rohaniah. Perkembangan berkenaan dengan peningkatan kualitas, yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa pertumbuhan berkenaan dengan penyempurnaan struktur sedangkan perkembangan dengan penyempurnaan fungsi.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
JURNAL
Syamsussabri, Muhammad. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Volume I : Halaman 3, 4, 5, 6, 7.
ARTIKEL
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/konsep-dasar-perkembangan-individu/
http://ewintribengkulu.blogspot.com/2012/11/prinsip-prinsip-dan-arah-perkembangan.html
http://blog.uny.ac.id/humasfipuny/files/2010/01/artikel-3.pdf

Komentar
Posting Komentar